Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
0 comment

David Archuleta-Crush

aku suka lagi sama lagu ini gara-gara baca novel "Pillow Talk" yang werrrrrrr itu....

I hung up the phone tonight
Something happened for the first time
Deep inside
It was a rush
What a rush
‘Cause the possibility
That you would ever feel the same way
About me
It’s just too much
Just too much

Why do I keep running from the truth
All I ever think about is you
You got me hypnotized
So mesmerized
And I’ve just got to know

[chorus]
Do you ever think
When you’re all alone
All that we could be
Where this thing could go
Am I crazy or falling in love
Is it real or just another crush
Do you catch a breath
When I look at you
Are you holding back
Like the way I do
‘Cause I’m trying, trying to walk away
But i know this crush ain’t going
Away
Going away

Has it ever crossed your mind
When we’re hanging,
Spending time, girl, are we just friends
Is there more
Is there more
See it’s a chance we’ve gotta take
‘Cause I believe that we can make this
Into something that’ll last
Last forever
Forever

[chorus]

Why do I keep running from the truth
(Why do I keep running)
All I ever think about is you
(All I ever think about)
You got me hypnotized
(Hypnotized)
So mesmerized
(mesmerized)
And I’ve just got to know

[chorus]

Going away
Going away

read more
0 comment

Coklat Stroberi

Coklat itu ibaratnya sifat maskulin cowok, lo dinilai dari kemampuan lo mencapai kesuksesan dan keagresifan lo meraih kemenangan. Artinya, lo harus jadi kuat dan tau juga caranya ‘main kasar’. Cowok dihadapkan ke satu tujuan yang jelas, jadi pemenang. Mo gimana kek caranya, lo harus bisa lebih sukses dari orang lain.
Jadi cowok sejati itu ya jangan bersifat kayak cewek. Jangan jadi manis, lembut, dan sensitif — kayak stroberi. Hoho, bisa diketawain lo entar sama temen-temen lo sesama cowok. Salah-salah, lo malah dipanggil banci, bencong, dan sodara-sodaranya.
Jadi, jujur sama gue… lo itu coklat ato stroberi, heh?
read more
0 comment

Pillow Talk : setiap hati punya rahasia

Kami ‘bersahabat’ sejak kecil.

Tepatnya, kalau ada kata lain untuk menggambarkan sesuatu yang melampaui ‘sahabat’, maka kata itulah kami.

Berbagi cerita, berbagi rahasia. Bahkan, tanpa disadari, kami pun membagi cinta.

Tapi, apakah kau tahu, rasanya saling mencintai namun bertahan untuk tidak saling memiliki?

Percayalah, ini lebih buruk dari sekadar patah hati.

Ini bukan kisah cinta yang ingin kau alami.
read more
0 comment

Spring In London

Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu sejak dulku. Sampai sekarang aku belum mengatakannya karena... yah, karena berbagai alasan. Dan alsan utamanya karena kau takut.
Kalau aku mengatakannya, reaksi apa yang akan kauberika?
Apakah kau akan menerima pengakuanku?
Apakah kau akan percaya padaku?
Apakah kau masih akan menatapku seperti ini?
Tersenyum padaku seperti ini?
Atau apakah justru kau akan menjauh dariku?
Meninggalkanku?
Tapi aku tahu aku harus mengatakannya padamu. Aku tidak mungkin menyimpan selamanya. Entah bagaimana reaksimu nanti setelah mendengarnya, aku hanya berharap satu hal padamu.
Jangan pergi dariku.
Tetaplah di sisiku.
read more
0 comment

Kepada Seorang Lelaki yang Mengajariku Menggoreskan Tinta :')

waktu aku baca novel "Kepada Cinta" aku nemu satu surat yang isinya keren abis, tapi bikin freak adalah , kenapa yang ngirim cowok, padahal suratnya di kirim ke cowok -____- tapi kalian baca aja deh, tapi maaf kalau panjang :p

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Untuk Rama,

Ini kali pertama aku berani mengatakan apa yang sekian lama yang kurahasiakan darimu, Rama. Hanya dua kata mampu menjelaskannya. Aku mencintaimu. Apakah itu cukup untuk membuatmu mengerti? Pikirmu, aku pasti menganggap itu terlalu sederhana sehingga membuatku mudah mengucapkannya, Kan?

Sebenarnya, aku sendiri masih belum bisa memahaminya, Rama. Aku mencintaimu. Hanya itu. Aku tak punya kata lain. Hanya karena itu Tuhan bilang aku berdosa? Kenapa? Aku selalu bertanya. Tapi Tuhan tak pernah menjawab. dia tak ada di mana pun.

Jika besok ketemui Tuhan, aku pasti akan menanyakan, "apa salahku mencintai Rama?"

Bukankah setiap orang berhak mencintai?

Bagiku, Kau selembut api lilin-lilin kecil yang bergoyang sendu di sepanjang lorong tempatku berjalan setiap malam, Rama. Secantik noktah emas kunang-kunang yang berlarian di antara pucuk-pucuk ilalang di sawah belakang rumahku. Seperti bunga-bunga kenikir yang mengangguk bersahaja kepada matahari dan capung-capung yang mencumbunya tanpa kata. Seperti silir udara yang menghantar buih ombak kedalam pelukan pasir putih--hanya untuk menyampaikan pesan yang begitu tergesa--lalu membawanya kembali ke ke tengah lautan dengan penuh kesetiaan. Seperti bisik mesra seekor kupu-kupu kepada kekasihnya yang tak mampu ditangkap angin. Dan, kau juga, seperti tirai-tirai hujan yang menari lentik dalam pacuan detak jantungku saat aku melangkah lirih di atas rerumputan pada suatu malam yang hening penuh rintih kesakitan; bahkan aku masih ingat, tatapanmu sering kupakai untuk menghapus air mata.

Maaf.

Aku tidak pernah bisa berkata lebih dari itu. Aku lebih sering menulis apa saja yang mestinya dapat kau mengerti di dasar kolam yang pendar airnya sama sekali tak mampu kau pahami. Ibuku bilang, hidup bagai secarik kertas usang yang penuh tulisan mimpi yang akan pergi begitu saja diterbangkan angin dan hilang dalam sekejap, terhapus jejak-jejak langkah hujan.

Semula, aku tak ingin memercayai itu. Tidak pernah ingin. Sebab, suatu kali dulu, tanpa kau sadari, kau ajari aku bagamainan menggores tinta dengan bijaksana di atas secarik kertas usang itu agar dia bisa hidup abadi. Meluluhkan perasaan angin dan hujan, lalu berubah menjadi burung-burung kecil bersayap putih yang telah bersiap terbang mengejar matahari. Kau ajari aku cara meneteskan air mata dengan amat perlahan sehingga hanya malaikat di kedua bahukun yang mampu mendengarnya (tanpa pernah memberitahukannya kepada Tuhan, kukira). Lalu, kau ajak kedua kelopak bibirku bergerak, mengucapkan kata-kata yang akhir-akhir ini sangat kubenci : doa.

Kau katakan padaku; pejamkan matamu, tidurlah dengan lelap di bahuku. Kau katakan lagi; ini ujung kemejaku, pakailah untuk mengusap air mata di pelupuk matamu ini. Dan, kau katakan lebih perlahan lagi; mintalah apa saja yang sanggup aku berikan, tapi kumohon, jangan pernah menangis lagi.

Kau bimbing aku seperti seorang bapak yang dengan sabar mengajari anaknya menaikkan layang-layang, tinggi berlari menyapa bintang-bintang. Ya. Kau seperti seorang bapak. Bapakku. Bapak yang telah lama meninggalkanku jauh sebelum kukosongkan rahim ibuku. Bapak yang tidak pernah ku kenal, tak pernah kuingat sorot matanya. Benar. Kurasa, kau memang sepeti bapakku. Tapi hanya jenis kelaminmu. Yang lain berbeda. Bagaimana mungkin sepenuhnya kusamakan kau dengan setan?

Tak mungkin aku lupa tentangmu, Rama.

Kau lindungi aku seolah-olah aku kura-kura kecil yang tersesat; kau bantu aku berjalan kembali menuju lautan untuk menemukan keluargaku. Kau tampak samar dan berkabut di mata, tetapi begitu jelas, begitu nyata dalam mimpiku.

Jadi, apa salahku mencintaimu?

Kau tau, doa yang kulafalkan kini tidak lagi seperti yang kau bisikan. Harapan yang kuceritakan tidak pernah lagi ku sampaikan pada Tuhan. Aku membenci-nya. Aku takut Dia mengkhianatiku lebih dari yang pernah Dia lakukan kepadaku; dengan mengirimiku hujan setiap hari dan mempertemukanku dengan mu. Aku sudah tidak lagi percaya pada-nya. Kau tahu, kan, Dia selalu mengatur hidupku. Mungkin, aku sudah gila.

Petemuan denganmu begitu manis sekaligus pahit. Kau menyelam kedalam hatiku seperti matahari terbit. Seperti bunga-bunga yang semula kuncup, lalu mulai bermekaran pada sebuah pergantian musim. Saat bersamamu, aku mampu merasakan kebahagian yang sempurna sekaligus kepahitan yang dalam; ketemukan kegelisahan yang panjang sekaligus kenikmatan yang naluriah; keheningan yang begitu damai sekaligus kenangan yang amat pahit.

Maaf.

Setelah mengetahui ini, mungkin kau akan pergi dariku atau aku tak mungkin lagi berada disampingmu. Kau akan membiarkanku berjalan sendiri lagi, kan? Apa Tuhan tidak punya hati? Bukankah keinginanku begitu sederhana? Aku hanya ingin kau miliki. Terlalu hinakah harapan itu?

Aku sudah tahu jawabannya. Ya. Aku sudah tahu. Sudah lama sekali aku tahu.

Aku selalu sendiri kini; di lorong sepi tempat kita dulu pernah saling melukis mimpi, menyulam bait-bait puisi, meneriakkan kesakitan dan bertanya-tanya kepada Tuhan. Tempat kali pertama kita bertemu, kau ingat?

Maaf.

Kalau aku pergi hari ini, bukan berarti aku marah padamu. Justru karena kau terlalu menyanyangi mu. Mungkin, kau bertanya-tanya tentangku, mungkin juga tidak. Tapi aku tetap harus mengatakannya kan? Di sini, di dalam sini, jauh didalam dasar hatiku, ada banyak sekali rahasia yang ingin kubagi denganmu. Tapi entahlah, aku tak punya satu pun kata yang dapat kugunakan untuk mulai mengatakannya.

Kau tahu, malam ini, disini, tempat pertama kali kita bertemu; dengan segelas bir dan sebatang rokok mengepul seperti cerobong asap kereta api, aku mulai menulis puisi tentangmu. Tentang senyummu yang terus saja membelai waktu dalam pikiranku. Tentang pelukanmu yang begtiu hening, begitu hangat melemahkan rasa sakitku. Tentang jari-jarimu yang halus, yang selembut kabut, yang sering kugunakan menggenggam udara untuk kuhirup. Tentang bahumu yang kokoh, lenganmu yang memberiku rasa aman, juga bongkah dadamu yang kuat, yang wangi tembakau. Oh, semua ini membuatku cengeng dan marah.

Aku seperti bisa merasakanmu berdiri dengan senyummu yang bisa--yang sepolos bayi--jauh di depan sana. Kau awasi aku dengan pandang sayangmu. Lalu, kau tanya, "Kau sedang tidak menangiskan?"

Dan ketika aku mendongak keluar, memandang segaris bulan sabit yang tampak samar dilangit, kau tahu, tiba-tiba, baru keusadari kalau telah lama tatapanku berkabut. Setiap sudut lorong tempat kali pertama kita bertemu seolah-olah tampak muram. Malam menjadi lebih gelap, menjadi lebih dingin daripada sebelumnya. Aku terus terpaku. Tak dapat kuselesaikan puisi tentangmu dengan kata-kata yang cantik, yang kuharap mampu meluluhkan Tuhan. Betapa aku ingin kau miliki, kau cumbu, kau dekap mesra. Kau lindungi seperti perempuan yang impikan.

Tapi, aku tahu, kau tak akan pernah bisa mengerti ini. Dan aku juga tak ingin kau memahaminya. Ini membuat kita sulit bernapas.

Kau tahu, ternyata, aku terlalu takut untuk melihat senyummu, menatap ujung sepatumu, mendengar kata-katamu. Karena itu, aku harus pergi. Aku tak bisa terus ada di sisimu dengan harapan yang tak mungkin dikabulkan Tuhan. Jika kau melihatku hari ini, kau pasti akan berkomentar dengan kata yang sering kau lontarkan, "Pecundang". Kau sering mengatakannya kan? Sekarang, aku ingin kau mengatakannya sekali lagi. Sekali saja. Sebelum aku benar-benar pergi. Nyatanya, aku masih saja menyusuri tempat kali pertama kita bertemu, menulis puisi-puisi tentangmu. mengkhayalkan lelap dalam lingkaran lenganmu.

Masihkan cinta dapat dipercaya seperti Tuhan? Nyatanya, aku hanya punya itu. Cinta. Satu kata yang kupakai untuk melukiskan betapa aku ingin kau miliki. Betapa aku ingin kau lindungi. Bertapa aku ingin menjadi perempuanmu. Menjadi satu-satunya perempuanmu. Yang memberimu seluruh hidupnya, yang akan setia mengangkat payung untukmu ketika hujan menyapa, yang hanya akan memiliki dirimu, yang akan terus menulis puisi-puisi tentangmu, yang akan melahirkan malaikat-malaikat kecil untukmu, untuk menghapus kesepianmu. Hanya itu sesungguhnya yang ingin kusampaikan padamu, yang ingin kusampaikan kepada Tuhan. Hanya demikian.

Tapi, karena Tuhan bukan manusia, Dia tidak akan pernah merasakan kesakitanku, merasakan harapan-harapanku untuk menjadi perempuanmu. Dia hanya bisa membisik ketelingaku bahwa mencintaimu itu dosa. Dan, mengapa itu dosa, Dia tak pernah memberi alasannya.

Jadi, jika besok ku temukan Tuhan, Rama, aku pasti akan menanyakan; apa salahku mencintaimu? Kenapa aku tak boleh mencintaimu? Bukankah kau dan aku bisa menjadi sepasang manusia tanpa harus meninggalkan-Nya? Mengapa cinta tiba-tiba bisa menjadi dosa? Toh, aku tidak melakukan apa pun yang menghina-Nya ...

Kau takkan bisa memberikanku jawaban, demikian juga Tuhan, bukan?

Dan, karena pertanyaan itu tak pernah terjawab, kau tahu, aku tak dapat menyelesaikan puisi-puisi tentangmu dengan kata-kata yang cantik. Pada akhirnya, aku hanya bisa termenung memandang langit hitam dengan sedikit pertanyaan; kemana perginya bulan dan bintang yang sejak tadi setia menemani keheningan malam?

Tiba-tiba, aku tahu apa yang harus kulakukan; meninggalkan tempat kali pertama kita bertemu. Tanpa menulis puisi-puisi tentangmu lagi.

Maafkan aku karena berani mencintaimu

Lelaki yang tak pantas mencintaimu,
Arjuna

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~`

apik toh? sek dulu tapi, aku ngakak pol rek waktu tau siapa nama orang yang ngirim surat ini, ARJUNA. ckck, nama cowok toh? -_______________- lah berarti iki radak homo laan ? -_-
read more
0 comment

Autumn In Paris

Tara Dupont
Maksud awal Tara adalah ingin bertanya tentang apa yang didengarnya waktu itu, tetapi begitu mendengar suara ayahnya di ujung sana, tanpa disadari air matanya lansung mengalir.
"Allo?" suara ayahnya terdengar lagi. "Ma cherie, ada apa?"
"Apa yang sudah Papa lakukan?" Itulah kata-kata yang pertama kali meluncur dari mulutnya. Suaranya bergetar.
"Apa?"
Tara mulai menangis dan suaranya tersendat-sendat, "Apa yang...sudah...Papa lakukan?"
Tubuhnya gemetar hebat dan ia terisak-isak diluar kendali. Tiba-tiba saja seluruh rasa sakit datang membanjiri tubuhnya. Dan yang paling terasa sakit adalah hatinya. Ia menekan telapak tangannya didada, seakan berusaha menutupi luka yang menganga di sana.
"Ma cherie...Papa tidak mengerti"
"Kenapa...kenapa..." sulit berbicara ketika sedang tersedu-sedu, tetapi Tara berusaha keras, "Kenapa Tatsuya...b-bisa menjadi...anak Papa?"
Ayahnya tidak menjawab.
Tara masih tetap tersedu-sedu. "Bo-bohong, kan?" tanyanya dengan nada putus asa. Itu bohong kan, Papa?"
"Kau ada di mana sekarang?"
"Jawab aku...Papa," katanya lemah. Terlalu banyak menangis menghabiskan tenaganya. "Katakan...itu bohong.."
"Katakan kau ada di mana. Papa akan segera ke sana dan menjemputmu. Setelah itu baru kita bicara."
Tara menggeleng keras. "Papa...jawab...sekarang..."
Diam sejenak di ujung sana, lalu, "Papa minta maaf, ma cherie. Papa sangat menyesal. Papa minta maaf."
Itu jawaban yang paling ditakutinya. Setitik harapan kecilnya musnah sudah. Kenyataan menghantam kepalanya, merobek-robek jantungnya dan menguras darah dari tubuhnya.
"Victoria... Ma cherie..."
"B-bagaimana sekarang... P-papa>" gumam Tara di sela-sela tangisnya. "B-bagaimana sekarang?... aku harus...bagaimana?..."
Ia menutup multnya dengan sebelah tangan untuk menahan tangisnya yang semakin kencang. Belum pernah ia menangis sesedih ini. Ini pertama kalinya ia tersedu-sedu diluar kendali.
Ia memtuskan hubungan dan jatuh terduduk di tanah. Kedua tangannya menutupi wajah, bahunya berguncang keras dan tubuhnya masih gemetar. Kemudiaan ia membisikkan pengakuannya,
Papa...Papa...aku...mencintainya."

Tatsuya Fujisawa
"Apakah ada yang tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai? Aku Tahu"
"Aku memang baru mengenalnya, tapi rasanya aku sudah mengenalnya seumur hidup. Dan tiba-tiba saja aku sadar dia telah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupku."
"Aku pertama kali bertemu dengannya di Bandara Charles de Gaulle. Lalu tanpa sengaja aku bertemu dengannya lagi disebuah kelab ketika dia agak
mabuk dan salah menyebut nama si bartender, Aku akhirnya tahu namanya pada pertemuan kami yang ketiga. Salah seorang temanku memperkenalkannya kepadaku. Selama ini aku tidak pernah percaya pada yang namanya kebetulan. tetapi ini seperti takdir. Karena akhirnya aku mendapat kesempatan mengenalnya."
"Saat itu juga aku memutuskan akan mencoba keberuntunganku. Sudah tiga kali aku bertemu dengannya tanpa sengaja-tentu saja saat itu dia tidak tahu, karena sejauh yang dia tahu, kami bertemu pertama kalinya saat temannya memperkenalkan kami-dan aku memutuskan jika setelah pertemuan ini aku bisa bertemu dengannya secara kebetulan, aku akan mengambil langkah pertama dan mengajaknya keluar."
"Bintang keberuntunganku ternyata sedang bersinar terang saat itu. Aku bertemu dengannya lagi, tanpa sengaja. Kali ini dia yang datang menghampiri dan menyapaku. Harus kuakui, aku begitu terpana sampai-sampai mendadak bisu sesaat. Aku tahu aku harus menepati janjiku sendiri. Aku pun mengajaknya menemaniku ke museum."
"Benar, gadis misterius yang kutemui di bandara dan Gadis Musim Gugur adalah orang yang sama."
"Hidup ini sungguh aneh, tapi juga tidak adil. Suatu kali hidup melambungkanmu setinggi langit, kali lainnya hidup mengempaskanmu begitu keras ke bumi. Ketika aku menyadari dialah satu-satunya yang paling kubutuhkan dalam hidup ini, kenyataan berteriak di telingaku dia juga satu-satunya orang yang tidak boleh kudapatkan. Kata-kataku mungkin terdengat tidak masuk akal, tetapi percayalah, aku
rela melepaskan apa saja, melakukan apa saja, asal bisa bersamanya. Tetapi apakah manusia bisa mengubah kenyataan?"
"Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah keluar dari hidupnya. Aku tidak akan melupakan dirinya, tetapi aku harus melupakan perasaanku padanya walaupun tiu berarti aku harus menghabiskan sisa hidupku mencoba melakukannya. Pasti butuh waktu lama sebelum aku bisa menatapnya tanpa merasakan apa yang kurasakan setiap kali aku melihatnya. Mungkin suatu hari nanti-aku tidak tahu kapan-rasa sakit ini akan hilang dan saat itu kami baru akan bertemu kembali."
"Sekarang...Saat ini saja...Untuk beberapa detik saja...aku ingin bersikap egois. Aku ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, dan melupakan asal-usul serta latar belakangku. Tanpa beban, tuntutan, ataupun harapan, aku ingin mengaku.
"Aku mencintainya"
read more
0 comment

Persahabatan dan Cinta

Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini, yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya

Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa. tentang sahabat sejak kecil, yang kemudian jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. sayangnya, di setiap cerita harus ada yang terluka


Ini barangkali hanya sebuah kisah cinta sederhana. tentang tiga sahabat yang merasa saling memiliki meskipun diam-diam saling melukai


ini kisah tentang harapan yang hampir hilang. sebuah kisah tentang cinta yang nyaris sempurna, kecuali rasa sakit karena persahabatan itu sendiri

sipnosis dari : REFARAIN "saat cinta selalu pulang"
read more
0 comment

aku mencintaimu dalam diam

copas from Sabrina Herdidestiamurti Notes

dikutip dari novel: kepada cinta. banyak yang dipotong, karna aslinya panjang banget :')


Ah, Hunny....
Terkadang, aku menyesali, kenapa itik buruk rupa sepertiku menginginkan elang yang terbang anggun di angkasa sepertimu untuk berada di sisiku? Meski kau tak pernah merendahkanku, tetap saja segala keterbatasanku menghalangiku untuk meraihmu. Sementara itu, kau bisa memperoleh seseorang yang hampir sempurna untuk melengkapi setengah bagian dari dien-mu.
Kisah cintaku memang hanya mengulang jutaan kisah cinta yang terjadi di dunia yang telah begitu renta ini. Aku menyadari perasaanku justru setelah kita berpisah. Dongeng klasik. Namun, tetap saja membingungkan setiap tokoh cerita yang mengalaminya. Oh, alangkah sederhananya hidup, hanya mengulang sejarah dari masa ke masa. Tapi, alangkah rumitnya manusia, hanya untuk mengekspresikan kasih sayang saja harus melalui banyak tahap dalam pikiran. Terkadang, mereka menyiksa diri dengan diam dan menyerah, bertanya-tanya di manakah keberanian akan ditemukan.
Sering juga aku menyangsikan bahwa gelombang perasaan yang menderaku ini adalah cinta.Benarkah aku mencintaimu? Lalu, dimana rasa ini bersembunyi pada waktu pertama kali kita bertemu? Tak ada rindu ingin bertemu, tak ada debaran keras jantung saat melihatmu tersenyum, tak kutemukan namamu dimana-mana. Bahkan, kau tak hadir dalam mimpi-mimpiku saat itu. Bertahun-tahun setelah kita berpisah, aku terbangun di suatu pagi dan diselimuti perasaan aneh, bahwa aku ingin memilikimu. Dengan alasan yang tak kumengerti.
Semua kenangan bersamamu akhirnya menjadi amat berharga. Maka, aku kembali mencari jejakmu yang hampir hilang dilapis debu waktu. Setitik kecil tulisan, sepetak gambar foto, sepotong demi sepotong ingatan tentang kata-kata yang pernah kau ucapkan, senyum yang pernah kau berikan, bahkan ejekan dan godaanmu kukumpulkan kembali. Semakin jelas kenangan itu terbentuk, semakin aku sadar bahwa di balik segala kehebatanmu, kau begitu apa adanya. Tak ada kata-kata berlebihan, tak ada ekspresi palsu. Perhatianmu padaku pun bukanlah sikap yang dibuat-buat. Mungkin, semua itu tersimpan dan mengendap dalam pikiranku begitu lama hingga aku tak menyadarinya. Dan ketika memori itu tiba-tiba mengapung ke permukaan, aku seolah-olah terbangun dan tersentak; aku membutuhkan seseorang sepertimu dalam hidupku.

Hunny,
Aku bahagia dengan semua yang kumiliki hingga saat ini. Aku bahagia menjalani pilihan demi pilihan yang kubuat selama rentang waktu yang terbentang sepanjang umurku. Aku tak memimta waktu diputar ulang agar bisa bersamamu lebih lama. Jikapun bisa aku kembali ke masa lalu, tetap aku takkan mampu untuk menyatakan perasaanku.

Hunny,
Kesabaran adalah jawaban terbaik yang bisa dimiliki setiap makhluk penuh tanya bernama manusia. Di suatu tempat dalam hati, aku meyakini dunia masih cukup sempit untuk mempertemukan kita kembali. Entah apa yang akan terjadi saat itu. Aku mungkin serasa bermimpi dan tak ingin bangun. Aku mungkin tak sanggup menatap matamu dan menahan segala rasa yang tersimpan begitu lama. Dan, kau mungkin akan memandangku dengan senyum jenaka seperti dahulu, seolah-olah jarak dan waktu tak pernah memisahkan pertemanan yang pernah ada.
Jika Tuhan mengizinkan, apapun bisa terjadi, bukan?

Entahlah... entahlah...
Aku hanya ingin kau tahu. Dalam diamku, aku berdoa kuasa-Nya akan membuatmu datang mengetuk pintuku dan mengatakan kau pun membutuhkanku dalam hidupmu...
read more
0 comment

perahu kertas :DD

Impian : Kugy, adalah cewek berantakan yang ngebet pingin jadi juru dongeng. Sementara Keenan sangait bercita-cita menjadi seorang seniman, seorang pelukis. Impian tak mulus. Kugy harus melewati hidup dengan realistis menjadi seorang copy writer, sementara Keenan malah harus berbalik arah cukup dratis, bekerja mengurusi perusahaan trading milik ayahnya. Namun, mereka selalu yakin dengan mimpinya. Tak ada yang lebih indah selain keduanya saling mendukung. Dan, begitulah Dee meramu ceritanya dengan apik di dalamnya. Seolah berkata “Jangan Takut Bermimpi”

Kejujuran : Inilah akhir cerita yang mengharu biru. Keduanya (Kugy dan Keenan) sempat berpisah sekian lama. Kugy, sudah punya kekasih bernama Remi, bos di kantornya. Sementara, Keenan juga sudah punya kekasih gadis Bali, Luhde namanya. Cerita begitu rumit. Namun, akhirnya Remi sadar bahwa hati Kugy hanya untuk Keenan, sementara Luhde juga sama, walau rasa cinta itu ada, hati Keenan hanya untuk Kugy. Ini kejujuran pertama. Kejujuran kedua, ketika Kugy dan Keenan jujur membuka hati, melepas ego masing-masing, jujur keduanya saling mencintai.

read more